Wednesday, June 11, 2014

Jalan Panjang 80 Tahun Perjuangan Persib

Konate Tendang Penalti, M Taufiq Ogah Melihat
Foto : ligaindonesia

Persib Bandung adalah klub yang memiliki andil yang sangat penting dalam sejarah Sepakbola Indonesia. Persib Bandung adalah salah satu klub yang ikut membidani lahirnya PSSI pada 19 April 1930 dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.  Waktu itu Persib masih bernama BIVB (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond)  bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) BIVB. Dalam pertemuan tersebut Persib diwakili oleh Mr Syamsuddin.

Memang Persib sebelum bernama Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib Bandung), saat itu di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R Atot.

Saat itu seluruh kegiatan BIVB dalam bermain sepakbola memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Bahkan kegiatan Tim Sepakbola BIVB ini juga beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti di Yogyakarta dan Jakarta. Aktivitas sepakbola BIVB dalam kompetisi antarkota Perserikatan Nasional waktu itu berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta. Namun kiprah BIVB harus berhenti sampai disini namun setelah itu muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Pada saat itu beberapa Klub bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Persib kembali meraih prestasi dengan masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, namun harus kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan kali ini juga harus menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi perserikatan setelah di final membalas kekalahan atas Persis.

Perjuangan Persib untuk eksis dalam Sepakbola Nasional banyak mengalami hambatan dari Kolonial Belanda. Pada masa itu di Bandung juga sudah berdiri beberapa perkumpulan sepak bola yang dimotori orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG. Persib memang sebuah klub sepakbola namun juga mengusung misi yang sangat mulia yaitu ikut mempersatukan bangsa untuk mencapai Kemerdekaan. Akhirnya perjuangan yang tak kenal menyerah membuahkan hasil. Persib memenangkan “perang dingin” dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung. Namun perjuangan belum berhenti. Pada masa penjajahan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan dilarang sama sekali termasuk kegiatan Persib. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Hingga akhirnya sampai pada masa Revolusi Fisik yaitu masa masa sulit setelah Indonesia merdeka, Ibukota Indonesia harus hijrah ke Yogyakarta. Saat itu Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi juga harus ikut hijrah dan mengungsi ke ibu kota perjuangan Yogyakarta.

Sampai dengan tahun 1948 Persib kembali mendapat rongrongan Belanda. VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia. Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan dan diaktifkan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa dan Rd Sugeng.Perjuangan Persib yang tidak kenal menyerah akhirnya berhasil, sehingga pada saat itu di Bandung hanya mengakui satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme.

Beberapa catatan kejadian penting yaitu pada periode 1953-1957 saat itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame Bandung.
Prestasi Persib selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Liga Indonesia pertama pada 1995, keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis berhasil mereka merebut juara. Pada saat itu Liga Indonesia mengalami penggabungan antara Perserikatan dan Klub-klub Galatama.  Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.

Catatan keberhasilan Persib juga harus dilengkapi dengan catatan kegagalan. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Namun demikian Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur’alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.

Persib adalah klub yang fenomenal telah menapaki sejarah panjang sejak zaman pra Kemerdekaan turut mebidani lahirnya PSSI. Hari ini tepat 14 Maret 2013 ternyata sudah 80 tahun yang lalu sejak Persib didirikan oh begitu panjangnya perjalanan perjuangan Persib untuk menegakkan Persatuan Nasional dan kiprahnya dalam Kemerdekaan Indonesia. Saat ini harapan masyarakat Bandung khususnya selalu menunggu prestasi gemilang masa lalu berhasil diwujudkan masa kini.
HIDUP PERSIB.

By Hendro Santoso

Sumber : Wikipedia, Republika  dan berbagai sumber






2 comments: